DILEMA IBU KARIR

Oleh: Prima S. Rohmadheny [1]

Perempuan sebagai seorang ibu dan isteri dalam rumah tangga menempatkannya pada peran yang sangat penting dalam keluarga. Sudah sejak lama sekali seorang perempuan yang berperan sebagai isteri sekaligus ibu juga membantu mendongkrak perekonomian keluarga dengan bekerja membantu suami. Baik itu bekerja membantu pekerjaan suami, berwirausaha, maupun berkarir sebagai pegawai yang tidak berkaitan dengan pekerjaan suami.

Bukan hal baru jika setiap ibu (baru melahirkan) yang juga bekerja mengalami dilema yang sangat hebat. Ibu yang berkarir selalu dihadapkan dengan pilihan antara ngemong anak dan tetap bekerja setelah cuti yang maksimal hanya 3 bulan telah berakhir. Banyak sekali pilihan solusi yang ditawarkan dan tak sedikit yang telah melakoninya. Ada diantara mereka yang memilih ngemong anak dan keluar dari pekerjaannya sehingga dapat dengan maksimal mendidik anak dan memenuhi hak anak. Namun setelah rata-rata anak mencapai usia 2 tahun, mereka mulai mencari pekerjaan lagi. Ada pula yang memilih untuk tetap bekerja setelah masa cuti berakhir dan menitipkan anaknya untuk dirawat oleh neneknya, tetangganya, saudaranya, atau pembantu dan baby sitter. Dan ada pula yang menitipkan anaknya di Tempat Penitipan Anak (TPA) untuk keluarga yang tinggal di kota besar dan jauh dari saudara. Semua pilihan solusi memiliki resiko masing-masing. Dan setiap resiko dalam pengasuhan anak sejak lahir hingga usia delapan tahun (anak usia dini), akan berdampak besar bagi perkembangan anak di kehidupan mendatang dalam segala aspeknya.

Melalui hasil sesi tanya jawab seminar dan talkshow yang diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Madiun pada hari minggu, 14 April 2013 dengan tajuk “Harmonisasi budaya belajar di sekolah dan di rumah”, diperoleh satu kesimpulan bahwa ibu bekerja atau ibu yang memiliki keaktifan di luar rumah pada saat anak masih usia dini memiliki tingkat rasa bersalah yang tinggi pada anaknya. Seminar dan talkshow yang dihadiri oleh Prof. Dr. Daniel M. Rosyid, Penasehat Dewan Pendidikan Jawa Timur dan Bunda Diah Litasari, S.Pd., Penemu metode “KUBACA” serta rektor IKIP PGRI Madiun Dr. Parji, M.Pd. ini menggugah para ibu yang bekerja (peserta seminar dan talkshow) ketika anak masih usia dini untuk menemukan solusi cerdas atas persoalan ini, yakni dengan menciptakan waktu yang berkualitas bagi anak meskipun dengan kuantitas yang rendah. Akan tetapi, ternyata solusi cerdas dari seorang ibu yang bekerja membutuhkan dukungan dari tempat bekerja, lingkungan, dan pemerintah. Karena, menerapkan solusi untuk menciptakan waktu yang berkualitas hanya bisa diterapkan jika anak sudah di atas usia 2 tahun. Jika anak masih berada di bawah usia tersebut, terutama di bawah 6 bulan hal ini akan sulit diterapkan dan justru bertentangan dengan program baik pemerintah untuk memberikan ASI eksklusif untuk anak sejak lahir hingga usia 6 bulan.

Disarikan berdasarkan NAEYC (National Association of Early Young Children), anak usia dini didefinisikan sebagai individu yang unik dan sedang berkembang pesat serta fundamental dalam rentang usia sejak lahir hingga delapan tahun. Sedangkan berdasarkan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 28 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun dan bukan merupakan pra syarat untuk memasuki pendidikan dasar. Selanjutnya bab I pasal 1 ayat 14 ditegaskan  bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Rangsangan pendidikan ini maksudnya bukan hanya diperoleh dari lembaga pendidikan saja melainkan lebih utama dari lingkungan keluarga.

Pengertian di atas didasarkan pada hasil penelitian beberapa ahli perkembangan otak yang menyatakan bahwa elatisitas perkembangan otak 80% berlangsung pada usia anak 4 tahun pertama. Hal ini berarti, anak usia dini berada pada usia emas (golden age) dengan masa peka yang sangat tinggi dibanding usia setelahnya. Itulah mengapa kehadiran seorang ibu sebagai orang pertama yang yang memberikan pendidikan awal dalam keluarga menjadi sangat dibutuhkan oleh anak usia dini.

Pada dasarnya, pemerintah telah menyadari hal ini sebagai sesuatu yang amat penting untuk mendapat perhatian. Oleh karena itu, pendidikan terutama untuk anak usia dini menjadi misi berharga untuk mewujudkan MDG’s (Millenium Development Golds) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2025 pemimpin Indonesia adalah anak-anak yang saat ini berada pada usia dini. Jika pendidikan untuk anak usia dini (keluarga, lingkungan, dan lembaga pendidikan) itu baik dan benar, maka anak usia dini calon pemimpin bangsa ini pun akan tumbuh menjadi pemimpin bangsa yang tidak hanya sehat, cerdas, dan ceria namun juga berakhlak mulia, memiliki karakter yang BaKu (Baik dan Kuat).

Masa-masa usia dini, terutama batita merupakan masa yang berharga jika hanya untuk dilewatkan tiap jengkal perkembangannya terutama oleh seorang ibu. Setiap ibu tidak ada yang tidak mendambakan untuk dapat mengikuti dan mengamati tiap jengkal perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Lalu, bagaimana dengan seorang ibu yang bekerja di saat anak-anaknya masih batita, terutama pada 2 tahun pertama pertumbuhannya?

Ide brilian Dahlan Iskan, menteri BUMN yang berencana untuk memberlakukan aturan cuti 2 tahun bagi pegawai perempuan di BUMN yang melahirkan dan sedang menyusui ternyata sangat rasional dan mengandung visi yang sangat jauh ke depan. Terinspirasi dari ide tersebut, saya yakin jika ide tersebut digodog dengan serius dan menjadi peraturan perundang-undangan yang jelas yang dikeluarkan oleh pemerintah sehingga diteruskan untuk berlaku di semua instansi baik pemerintahan maupun swasta maka hal ini akan menjadi kekuatan yang hebat untuk melahirkan calon pemimpin bangsa di masa mendatang melalui pendidikan awal sang Ibu. Tentu saja, dalam pelaksanaannya perlu terjadi integrasi yang baik antara pemberian kesempatan cuti 2 tahun bagi Ibu bekerja, bekal pendidikan cara mendidik anak yang baik dan benar untuk kedua orang tua melalui pendidikan/konsultasi pra nikah, instansi kesehatan dan lembaga-lembaga pendukung lain. Karena, kuantitas tetap harus mendapat dukungan kualitas agar mendapat hasil yang optimal.

Jika pemberian cuti 2 tahun ini diterapkan, maka keuntungan yang didapatkan adalah peluang ibu untuk memberikan ASI eksklusif lebih besar, peluang untuk memperhatikan stimulasi pendidikan awal dari seorang ibu meningkat, program MDGS’s mendapat dukungan, dan dilema ibu karir sebagai Kartini masa kini dapat terjawab.



[1] Tenaga Akademik program studi PG PAUD IKIP PGRI Madiun dan mahasiswa program pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (prima.suci@gmail.com)

Burung Berwarna Biru

Suatu hari seekor burung berwarna biru tiba-tiba masuk ke kamar Anda melalui jendela dan terperangkap di dalam.
Ada sesuatu pada burung tersesat ini yang menarik. Anda memutuskan untuk memeliharanya.
Tapi Anda terkejut karena esoknya burung berubah warna, dari biru menjadi kuning!
Burung berubah warna lagi dalam waktu semalam – di pagi hari di hari ketiga berubah menjadi merah terang, dan di hari keempat berubah menjadi hitam.

Selanjutnya

Self Talk sebagai Sarana Self Terapi

 

Sebetulnya kita banyak melakukan Self talk (dialog dengan diri sendiri)
sepanjang hari. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita melakukan “dialog
diam” ini sebanyak 50.000 kali dalam sehari.

Self talk memiliki efek langsung terhadap pikiran dan perilaku kita. Self talk adalah dialog internal yang kita lakukan dengan diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi tertentu. Apa yang “secara diam-diam” kita katakan kepada diri sendiri mengenai sebuah kejadian akan memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri kita. Selftalk dapat mengubah apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling kita, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita ingat ketika meninjau kembali pengalaman di dalam
hidup kita. Selanjutnya

Ibu PAUD

Persiapan pelaksanaan kegiatan Penobatan Bunda PAUD Aceh disertai dengan pelaksanaan pelantikan pejabat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Proses pelaksanaan pelantikan ini tidak mempengaruhi semangat Tim Panitia dalam mempersiapkan pelaksanaan kegiatan Penobatan Bunda PAUD Aceh yang akan dilaksanakan pada tanggal 07 November 2012, Selanjutnya